Friday, July 24, 2009

0030 UNTITLED


Empat buah skets pada halaman ini masing-masing saya buat pada waktu dan tempat yang berbeda.

Skets pertama; skets seorang bayi yang tertidur pulas, anak pemilik warung makan di belakang gedung DPRRI. saat saya sedang menyelesaikan sketsnya, anak tsb bangun.

Skets kedua; seorang bapak sedang menunggu giliran namanya dipanggil dalam antrean pembayaran rekening telepon di kantor pos Fatmawati Jaksel. Begitu bapak itu melihat saya sedang menatapnya untuk penyelesaian sketsa, buru-buru bapak-bapak itu pergi. mungkin bapak itu curiga melihat tampang saya...

Skets ketiga; gambar sebakul kecil nasi yang dihidangkan sementara lauknya sedang disiapkan. lokasi sebuah warung makan sunda di pertigaan Pondok Labu Jaksel. inginnya menskets secara lengkap plus lauk pauknya, tetapi apa daya, rasa lapar keburu menyergap...

Skets keempat; dua lampu gambar saya yang dua-duanya ngadat secara berjamaah. satu patah dan satunya lagi bohlamnya minta diganti...

8 comments:

*shanti yani* said...

salah satu alasan terbesar sy sehingga 'takut-takut' men-sket benda2 'live' secara aktual ya..seperti yg bang cedar alami; ditatap curiga oleh sang objek!

tapi kalau objek sudah bergerak (berlalu) apakah sket langsung terhenti begitu saja atau lanjutkan saja berdasarkan ingatan yg tersisa, bang? mohon bimbingannya

cedharr said...

kultur kita memang masih asing dg budaya skets seperti ini. salah satu tugas kita adalah mensosialisasikan. tetapi umumnya bila mereka tahu kegiatan kita, mereka cenderung apresiatif. pernah pada suatu ketika saya skets di daerah terminal sekaligus pasar, dimana sekitar saya banyak preman, ada kekhawatiran untuk dipalak atau apalah..tetapi kekhawatiran hilang, mereka malah senang melihat apa yg saya lakukan, malahan mereka ikutan bangga bila pembicaraan mereka kita perhatikan juga. pendek kata kita meski ramah, libatkan mereka/lingkungan dalam pembicaraan. meski begitu kita tetap waspada, karena tidak semua lingkungan yg kita hadapi baik/ramah.
masalah objek yg bergerak, sebisa mungkin kita lanjutkan berdasarkan ingatan kita. tetapi bila hal itu tidak memungkinkan, berhenti menjadi pilihan yg tepat, bila kita memfocuskan pada orisinalitas objek.
untuk objek yg bergerak, objek binatang misalnya sebaiknya kita menggambar lebih dari satu pose. hal ini untuk menghindari bilamana saat kita menggambar objek tsb bergerak dan berhenti sesaat untuk pose baru (pada detik ini kita skets pada halaman yg sama). bila objek tsb kembali ke pose semula kita teruskan sket kita sebelumnya. pada umumnya objek tsb akan mengalami pose yang sama/hampir sama.
saya sendiri lebih menyukai menskets objek bergerak, karena lebih ada tantangan. kita dituntut untuk dapat merekam ingatan kita sekaligus tangan kita untuk aktualisasinya dalam jangka waktu yg sangat singkat. meski kita tidak bisa menangkap detail tetapi gesture dan impresi kita dapatkan.
semoga jadi masukan yg berguna, selamat menskets kapan saja dan dimana saja,karena dengan banyak melakukan skets, tangan kita semakin trampil dan gambar kita semakin bagus...

CEDHARR said...

kultur kita memang masih asing dg budaya skets seperti ini. salah satu tugas kita adalah mensosialisasikan. tetapi umumnya bila mereka tahu kegiatan kita, mereka cenderung apresiatif. pernah pada suatu ketika saya skets di daerah terminal sekaligus pasar, dimana sekitar saya banyak preman, ada kekhawatiran untuk dipalak atau apalah..tetapi kekhawatiran hilang, mereka malah senang melihat apa yg saya lakukan, malahan mereka ikutan bangga bila pembicaraan mereka kita perhatikan juga. pendek kata kita meski ramah, libatkan mereka/lingkungan dalam pembicaraan. meski begitu kita tetap waspada, karena tidak semua lingkungan yg kita hadapi baik/ramah.
masalah objek yg bergerak, sebisa mungkin kita lanjutkan berdasarkan ingatan kita. tetapi bila hal itu tidak memungkinkan, berhenti menjadi pilihan yg tepat, bila kita memfocuskan pada orisinalitas objek.
untuk objek yg bergerak, objek binatang misalnya sebaiknya kita menggambar lebih dari satu pose. hal ini untuk menghindari bilamana saat kita menggambar objek tsb bergerak dan berhenti sesaat untuk pose baru (pada detik ini kita skets pada halaman yg sama). bila objek tsb kembali ke pose semula kita teruskan sket kita sebelumnya. pada umumnya objek tsb akan mengalami pose yang sama/hampir sama.
saya sendiri lebih menyukai menskets objek bergerak, karena lebih ada tantangan. kita dituntut untuk dapat merekam ingatan kita sekaligus tangan kita untuk aktualisasinya dalam jangka waktu yg sangat singkat. meski kita tidak bisa menangkap detail tetapi gesture dan impresi kita dapatkan.
semoga jadi masukan yg berguna, selamat menskets kapan saja dan dimana saja,karena dengan banyak melakukan skets, tangan kita semakin trampil dan gambar kita semakin bagus...

CEDHARR said...

coba baca bukunya Victor Ambrus; Drawing Animals atau Richard Schilling; Watercolor Journeys;create your own travel sketchbook. ulasan di dalamnya tentang seluk beluk skets sangat bermanfaat.

*shanti yani* said...

penjelasannya sangat-sangat jelas bang. thnx atas waktu dan perhatiannya. kalau ada kesempatan, intip ke blog ku juga ya.. (hehehe...udh ketahuan maksud aslinya):D

pertanyaan tambahan: skech book ukuran apa yg paling baik digunakan (tidak ribet saat mobile). sekedar informasi, kemana2 sy biasa menenteng tas model ibu2 sih... :D

CEDHARR said...

Kalo pas mobile saya suka ukuran A6/sekitar 9x14cm, tidak spiral binding dan saat dibuka antara halaman kiri dan kanannya rata. saya hanya pakai salah satu sisinya saja, tidak bolak balik. persis yg saya pakai pada skets2 di blog ini. ukuran ini bisa masuk kantong celana jeans atau jaket.
Atau ukuran A5/sekitar 14.8x21 cm. boleh yg spiral binding. cukup praktis dan mudah dilipat/dibalik.
Kalo tas, usahakan yg ringan dan agak kaku. bila bahannya lemas, buku akan cepet lecek. idealnya sketchbook ditaruh di dalam kantong plastik agar tdk mudah kotor, lecek dan aman saat hujan.
Ok akan saya tengok blognya...

SAS said...

Mas Dharr, bikin sketsa yang baik barangkali bisa membantu merekontruksi gambar wajah pelaku peledakan bom yang sudah rusak, sehingga bisa lebih cepat dikenali, ya? Soalnya yang dipasang di pamflet2 kok nggak gitu jelas garis wajahnya, jadi sulit dikenali.

CEDHARR said...

Setuju, di kepolisian memang ada petugas khusus pwmbuat sketsa wajah pelaku. mereka jago2, banyak yg mirip dg pelaku meski informasi yg didapatkan sangat minim.