Monday, June 6, 2011

PAGELARAN WAYANG DI JAKARTA (SKETCH SERIES)

Skets ini saya buat saat pagelaran wayang semalam suntuk di Jakarta pada waktu dan tempat yang berbeda, tetapi animo masyarakat yang sebagian berasal dari Jawa Tengah sangat luar biasa. Pagelaran ini tidak hanya sebuah tontonan atau hiburan belaka tetapi sekaligus sebagai kelangenan dan momen yang agak jarang. Sebagian penonton ada yang berpakaian tradisional lengkap, beskap, sorjan, blangkon juga selop, seakan mereka berusaha keluar dari dunia nyata, hirup pikuk metropolitan yg sehari-hari mereka hadapi. Ya, meski hanya semalam tetapi mampu menumbuhkan kesegaran dan spirit baru menghadapi dunia nya keesokan harinya...
Saya ingin mencoba menangkap moment ini dengan segala dinamikanya meski dalam keterbatasan suasana terutama penerangan yang minim tanpa lampu khusus yang biasa saya bawa saat saya melakukan nigh sketching. Selamat menikmati...

Pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudarsono di lapangan upacara markas besar Marinir Cilandak. Penonton disini terlihat rapi dan sopan, mungkin atmosfir militer yang membuat situasi menjadi begini. Memang saat masuk lokasi penjagaan cukup ketat, pakaian rapi, tidak boleh bersandal japit, jaket dan topi dilepas dan motor parkir di luar area. Penonton terbagi menjadi 3 bagian, paling depan terdiri dari kursi2, Bagian belakang dibuat panggung bertingkat dan beratap terpal sedang sayap kanan dan kiri penonton yang tidak kebagian tempat duduk, mereka berdi atau duduk.


 

Canson sketchbook A6 dan Drawing Pen # 0.05.

 Rawat karang gigi seperti ini pasti jauh dari standar higienis kesehatan dan cukup berisiko. Tetapi selalu ada pangsa pasar, terutama mereka yang berdompet tipis serta pengetahuan akan higienitas yang rendah.

Gurah mata dengan menggunakan peralatan yang dipakai secara masal dan pembersih ala kadarnya.

Muji sketchbook B5 dan Drawing Pen # 0.05 dan 0.1 

Bekam dengan tanduk yang diyakini (sesuai poster yang dipajang) dapat menyembuhkan berbagai penyakit, baik medis dan non medis. Jenis penyakit medis sudah jelas, seperti asam urat, darah tinggi, stroke dll. Jenis non medis agak unik seperti kena guna-guna, pengasihan, pemikat kekasih, gendam asmara, penangkal diri, gangguan roh jahat dll. Kepercayaan akan kasiat terapi ini, semua kembali kepada khalayak...
Pada malam itu terdapat satu jenis terapi, yakni dengan menggunakan lintah. Sepertinya malam itu jasa ini sepi bahkan tidak laku semalaman. Mungkin para pengunjung geli dan jijik melihat binatang satu ini. Ada kemauan kuat untuk mensket tapi saya tidak tahan melihat binatang2 yang bertumpuk dalam sebuah kotak! Hiii....
Sayang saya tidak bisa mendekati panggung pertunjukan dan mensketsanya karena saya berada jauh di belakang dan tidak memungkinkan untuk mendekati panggung karena penonton yang berjubel. Maklum dalang kali ini adalah Ki Anom Suroto beserta putranya Bayu Aji.

Canson sketchbook A4 dan Ballpoint pilot hitam

Wednesday, October 27, 2010

REPARASI SEPATU

Bang Aas, panggilan bapak ini yang berasal dari garut dan berprofesi sebagai tukang reparasi sepatu, tas, jaket dll. Beliau merantau ke Jakarta sejak tahun 1998. Sebelumnya dia bermukim di kawasan Pulo Gadung sebelum akhirnya nmenempati sebuah sudut di bagian atas Taman Puring yang merupakan sentra jual beli baik barang baru maupun sekon dengan harga yang cukup miring. Saat ini, Bang Aas ditemani oleh seorang kerabat yang juga berprofesi sama dengannya.

Tuesday, October 26, 2010

DINAMIKA PASAR MAYESTIK

Dua kali saya menskets Pasar Mayestik dengan sudut pandang yang hampir sama, dan dua kali juga saya mendapatkan obyek yang nyaris berbeda.
Pertama, saya skets pada 6 November 2009 pkl. 17.24 WIB dimana bangunan induk tempat para pedagang berjualan berbagai macam barang dan jasa masih berdiri tegak.
Kedua; saya skets pada 28 September 2010 pkl. 15.53 dimana bangunan induk sudah diratakan dengan tanah dan diberi batas berupa pagar/dinding dari seng.
Tetapi ada satu hal yang hampir sama. yaitu posisi para pedagang di luar area gedung induk yang  tidak berubah dan hanya mengalami pengembangan tempat mereka berdagang.
Ini merupakan pasar ketiga di Jakarta yang sempat saya kunjungi, sebelumnya adalah Pasar Santak dan Pasar Cikini, dimana kedua pasar tersebut juga sudah berubah dan digantikan dengan bangunan baru yang lebih megah...

Monday, August 23, 2010

SAAT HUJAN TIBA

Beberapa sketsa ini saya buat saat hujan berlangsung, baik saat sedang di rumah maupun di luar rumah...

Skets saya buat saat berteduh di jembatan penyeberangan/halte busway Setia Budi, Kuningan Jkt, setelah kumpul dg temen2 IS di Taman Suropati. Meski secara langsung tidak kehujanan tetapi angin berhembus kencang, tanpa sy sadari seluruh bagian tubuh belakang sy sudah basah kuyup, termasuk sketchbook yg sy pegang.
Coloring sy lakukan setelah sampai di rumah, dan tentu saja setelah sketchbook kering...

Hujan besar berlangsung saat saya berada di kios buku di Pondok Pinang Jaksel. Setelah hujan berhenti kemacetan parah terjadi. Seorang 'pengamen' memanfaatkan moment ini untuk mencari nafkah dengan monyet tumpuan hidupnya... (terkesan aneh memang, seorang manusia menggantungkan hidupnya dari keahlian seekor monyet!)

Sebuah pohon yg cantik, sekaligus sebagai peneduh di kawasan niaga Pondok Indah. Saya mensketsnya sambil berteduh menunggu hujan reda...

Gerimis seharian, tak banyak yang bisa dilakukan...
Saya 'ambil' obyek ini di sebuah kamar kost di daerah Cilandak, Jaksel...

Air seakan tercurah dari langit... semuanya basah, juga seekor katak lewat di dekat pot. Meski musim hujan, tetapi tak lagi terdengar nyanyiannya, mungkin populasi mereka semakin berkurang karena lahan mereka berubah menjadi bangunan perumahan yg padat penghuni...

Thursday, August 5, 2010

TRIBUTE TO PEPENG

Merupakan aktivitas sosial dari seniman gambar di seluruh Indonesia dan sebagai upaya memecahkan rekor Muri. Sekitar 250 seniman dari berbagai bidang profesi, seperti kartunis, ilustrator, desainer grafis, sketchers dll berkarya dan menghasilkan hampir 800 karya. Tema utama adalah mengangkat sosok Pepeng (artis era 70-80 an yg terkenal sebagai pembawa acara Jari-jari...) dari berbagai sudut pandang.
Penghargaan rekor Muri diberikan oleh Jaya Suprana pada program acara Kick Andy di studio Metro TV pada 4 Agustus 2010.
Kegiatan ini dimotori oleh PAKARTI Jakarta (Paguyuban Kartunis Indonesia) dan didukung oleh beberapa komunitas gambar diantaranya Indonesia’s Sketchers, Komunitas Ilustrator Anak, Komunitas seni WPAP (Wedha Pop Art Production) dll.

Berikut adalah hasil ‘reportase sketsa’ saat acara tersebut berlangsung...

Rombongan ‘kaum Gambaris’ Indonesia sedang dalam bus,
perjalanan dari TIM menuju studio Metro TV.

Patung besar di lobby studio...


Pak Dwi Koen, saat sebelum acara dimulai...

Panggung yang masih kosong, menjelang pengambilan gambar dalam acara TV; Kick Andy.

Suasana panggung utama saat wawancara berlangsung; Jaya Suprana, Pepeng dan Andy F. Noya.

Kaum Gambaris kumpul di TIM dan di Netro TV...

Media: Photoshop, Kenko Hi-Tech-H gel pen, Drawing pen dan cat air di atas kertas (sketchbook 15 x 9,5 cm, double page).

Wednesday, July 14, 2010

MEREKA YANG BERTAHAN HIDUP DENGAN KESENIAN TRADISIONAL ADI LUHUNG


Kelompok kesenian keliling ini terdiri dari satu keluarga dengan lima orang anak, salah satunya satunya berusia sekitar satu tahunan. Mereka berasal dari Gubeng-Surabaya. Di Jakarta mereka tinggal di Tanah Abang. Saya mensketsnya di pelataran TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta Pusat pada malam hari pkl 20.00 wib. Kelompok serupa banyak kita jumpai di sudut-sudut Ibu kota dengan berbagai ragam jenis keseniannya. Mereka mencoba bertahan hidup dengan seni tradisi yang rata-rata mereka warisi secara turun-temurun. Ironis memang, satu sisi mereka berperan melanggengkan seni tradisi sementara di sisi lain kehidupan mereka sangat tergantung oleh simpati orang saat mereka pentas' di pinggiran jalan....
Meski ada pihak berwenang yg konsen dlm menangani masalah ini dan jangan hanya bisa mersa kebakaran jenggot saat mereka/budaya ini diakui oleh pihak lain!
Semoga....


Salah satu adegan dalam pementasan kuda lumping. Api seakan tersembur dari mulut mereka, kemudian dengan api menyala mereka padamkan api itu di dengan cara memasukkannya ke dalam mulut...
Satu atraksi yang tentu saja tidak boleh ditiru bagi mereka yang bukan ahlinya!

Tuesday, June 22, 2010

INDONESIA'S SKETCHERS ON THE RADIO

Pada Senin 21 Juni 2010, siang yang panas membakar Jakarta, Indonesia's Sketchers (IS)  diundang oleh sebuah stasiun radio, Trax FM (101.4 FM) untuk wawancara on air seputar sketsa, khususnya di komunitas IS. Kami mewakili IS; Saya, Donald Saluling dan Toni Malakian berbincang bersama mbak Dewi dari TraxFM sebagai producer sekaligus pemandu acara mengawali perbincangan ini suasana yang ringan dan cair.
Respon dari pendengar yang memang ditujukan untuk kalangan muda belia  ini cukup baik. Banyak diantara mereka yang menanyakan tentang IS dan aktivitasnya, serta berkeinginan untuk bergabung serta belajar membuat sketsa. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering mengganjal niat mereka; apakah membuat sketsa itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang mempunyai bakat saja, bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai bakat?
Jawaban kami tentu saja tidak! Karena pada dasarnya hasil karya (seni) merupakan sebuah proses dan dapat dipelajari. Kami yakin bila seseorang berkemauan dan secara intens berlatih akan mampu melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan: membuat sketsa!
Perbincangan singkat siang itu, saya rasa cukup memberi motivasi serta inspirasi bagi pendengar dan juga kami khususnya untuk terus mensosialisasi dan menggairahkan seni sketsa di negeri ini yang agaknya nyaris ditinggalkan....

Hasil sketsa saya selama wawancara berlangsung. Coloring sy menggunakan Photoshop karena fountain yang saya gunakan tidak waterproof.